“Ramadhan sebagai Ruang Pembentukan Karakter Profesional Mahasiswa Pendidikan Administrasi Perkantoran”
Bagi saya sebagai mahasiswa Program Studi
Pendidikan Administrasi Perkantoran, Ramadhan bukan sekadar bulan yang identik
dengan puasa dan ibadah ritual semata. Ramadhan adalah ruang pembelajaran yang
sangat luas tempat menempa kedisiplinan, memperkuat integritas, serta membangun
etos kerja yang berlandaskan nilai spiritual. Dalam konteks pendidikan
administrasi perkantoran, nilai-nilai ini bukan hanya penting, tetapi menjadi
fondasi utama dalam membentuk calon pendidik dan tenaga profesional yang
berkarakter.
Puasa melatih kedisiplinan secara nyata. Sejak
waktu sahur hingga berbuka, setiap detik terasa teratur dan terukur. Tanpa
sadar, kita belajar mengelola waktu dengan lebih rapi. Dalam dunia administrasi
perkantoran, ketepatan waktu adalah harga diri sebuah profesi. Surat harus
dikirim tepat jadwal, arsip harus tersusun sistematis, dan pelayanan harus
diberikan secara sigap. Ramadhan membiasakan diri untuk hidup dalam
keteraturan. Hal ini selaras dengan pesan Nabi Muhammad ﷺ
yang kurang lebih menegaskan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah
yang dilakukan secara konsisten walaupun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim).
Konsistensi inilah yang menjadi ruh profesionalisme.
Selain disiplin, Ramadhan juga menguatkan nilai
kejujuran. Ketika seseorang berpuasa, tidak ada pengawasan manusia yang
benar-benar memastikan ia tidak makan atau minum secara sembunyi-sembunyi.
Namun, kesadaran bahwa Allah Maha Melihat menjadi pengendali utama. Dalam
sebuah hadis qudsi dijelaskan bahwa setiap amal manusia adalah untuk dirinya,
kecuali puasa; puasa itu khusus untuk Allah dan Allah sendiri yang akan
membalasnya (HR. Bukhari dan Muslim). Pesan ini mengajarkan bahwa integritas
sejati lahir dari kesadaran batin, bukan dari tekanan eksternal. Sebagai
mahasiswa administrasi perkantoran, nilai ini sangat relevan karena profesi ini
identik dengan pengelolaan data, dokumen, dan informasi yang menuntut kejujuran
tinggi.
Ramadhan juga memperhalus sikap dan etika. Dalam
praktik administrasi, pelayanan prima tidak hanya diukur dari kecepatan kerja,
tetapi juga dari keramahan dan empati. Nabi Muhammad ﷺ pernah menyampaikan
bahwa orang yang berpuasa hendaknya menjaga lisannya dan tidak berkata kasar;
jika diganggu, cukup mengatakan bahwa ia sedang berpuasa (HR. Bukhari). Pesan
tersebut mengandung pendidikan karakter yang mendalam. Artinya, puasa bukan
hanya menahan lapar, tetapi juga mengendalikan emosi. Bagi mahasiswa yang kelak
menjadi pendidik atau tenaga administrasi, kemampuan mengelola emosi dan
bersikap santun merupakan modal penting dalam membangun lingkungan kerja yang
harmonis.
Di bangku perkuliahan, tantangan Ramadhan tentu
terasa. Tugas tetap berjalan, presentasi tetap harus disiapkan, dan kegiatan
organisasi tetap membutuhkan kontribusi. Dalam kondisi fisik yang terbatas, mahasiswa
dituntut untuk tetap produktif. Justru di sinilah makna perjuangan itu terasa.
Ramadhan menjadi latihan mental untuk tetap optimal meskipun dalam keadaan
lelah. Nilai kerja keras yang dibalut keikhlasan menjadikan aktivitas akademik
terasa lebih bermakna.
Sebagai mahasiswa Pendidikan Administrasi
Perkantoran, saya melihat bahwa Ramadhan adalah momentum refleksi profesional.
Ilmu administrasi mengajarkan tentang perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, dan pengawasan. Ramadhan secara tidak langsung melatih keempat
aspek tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kita merencanakan target ibadah,
mengorganisasi waktu antara kuliah dan kegiatan rohani, melaksanakan dengan
komitmen, lalu mengevaluasi diri di akhir hari. Proses ini sangat selaras
dengan prinsip manajemen modern.
Lebih jauh lagi, Ramadhan menanamkan kepedulian
sosial melalui zakat dan sedekah. Spirit berbagi ini mengingatkan bahwa profesi
administrasi bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan bagian dari pelayanan
kepada masyarakat. Seorang tenaga administrasi atau pendidik administrasi harus
memiliki sensitivitas sosial, memahami kebutuhan orang lain, serta bekerja
dengan hati.
Pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya ritual tahunan
yang datang dan pergi. Ia adalah proses pendidikan karakter yang komprehensif.
Jika nilai-nilai disiplin, integritas, konsistensi, empati, dan tanggung jawab
mampu kita bawa keluar dari bulan suci ini, maka kita tidak hanya menjadi
mahasiswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga pribadi yang matang secara
moral dan profesional.
Sebagai calon pendidik dan praktisi administrasi perkantoran, saya meyakini bahwa keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, melainkan juga oleh kualitas akhlak. Dan Ramadhan, bagi saya, adalah madrasah terbaik untuk menyiapkan keduanya sekaligus.
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Tahun 1447 H
DISUSUN OLEH : EDO SISWANTO
TIM HUMAS PRODI PENDIDIKAN ADMINISTRASI PERKANTORAN TAHUN 2026